google-site-verification: googlef5bfa2421d00dca0.html AULIA ADVERTISING: Berita Mengejutkan 709 Kasus Kekerasan Dilakukan Polisi Terhadap 4.569 Warga Sipil

Senin, 23 Desember 2013

Berita Mengejutkan 709 Kasus Kekerasan Dilakukan Polisi Terhadap 4.569 Warga Sipil

Lihat berita TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  berita mengejutkan dari Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) mencatat sejak Januari hingga November 2013 telah terjadi 709 kekerasan yang dilakukan oleh aparat Kepolisian. Dari angka kekerasan tersebut 4.569 warga sipil menjadi korban.
"Angka kekerasan tersebut tergolong cukup tinggi, khususnya jika dibandingkan dengan angka yang terjadi pada 2012 sebanyak 448 kasus kekerasan dan 2011 sebanyaj 112 kekerasan," kata Haris Azhar, Koordinator Kontras, dalam pemaparan 'Catatan Akhir Tahun Kontras' di Kantornya, Jakarta, Senin (23/12/2013).
Haris menuturkan, Kontras mencatat sepanjang Januari hingga November 2013 sebanyak 107 kasus secara umum bentuk pelanggarannya dikategorikan sebagai pembiaran.
Menurutnya, Polri tidak mengambil tindakan efektif untuk menghentikan penyerangan, intimidasi dan ancaman yang dilakukan oleh kelompok intoleran.
"Polri bersama dengan massa intoleran turut serta membubarkan acara atau ritual keagaamaan yang diselenggarakan oleh kelompok minoritas," tuturnya.
Lebih lanjut Haris mengatakan, terkait dengan kekerasan dalam isu eksplorasi sumber daya alam, Kontras mencatat sepanjang Januari hingga Agustus 2013 terjadi 115 peristiwa kekerasan yang dilakukan oleh Polri dan beberapa diantaranya dilakukan TNI.
Menurutnya, bentuk kekerasan yang dilakukan berupa penangkapan dan penahanan sewenang-wenang, penembakan hingga mengakibatkan luka serius dan meninggal dunia, penyiksaan dan perbuatan tidak manusiawi lainnya.
"Secara umu, Kontras mencatat bahwa Polri dan TNI masih menjadi alat kepanjangan tangan dari perusahaan atau kelompok bisnis. Situasi ini diperburuk dengan lemahnya komitmen pemerintah RI sebagai 'host country' dari beragam perusahaan internasioanl yang berinvestasi di Indonesia," ucapnya.
Aparat negara seharusnya menjadi pelindung rakyat, eh malah jadi penindas rakyat, seharusnya menjadi penengah, pengayom, pelindung, malah pangkatnya menjadikan bisnis mesin pencari uang masyaallah mau jaji apa kira kira negara ini. dan kasiannya yang tidak punya saudara atau blacking aparat, tidak mampu bayar aparat. hem,hem...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar